Mengenang "El Niño Godzilla": Monster Iklim 2015
Pada periode 2015 hingga 2016, bumi berhadapan dengan anomali iklim yang begitu ekstrem hingga para ahli klimatologi dari NASA menyematkan julukan yang menakutkan: "El Niño Godzilla". Berbeda dengan siklus cuaca biasa, fenomena ini membawa kekacauan berskala global. Bagi Indonesia, kedatangan monster iklim ini meninggalkan memori kelam berupa kekeringan parah dan salah satu krisis lingkungan terburuk dalam sejarah modern. Apa Sebenarnya "El Niño Godzilla"? Secara ilmiah, El Niño adalah fenomena pemanasan Suhu Permukaan Laut (SPL) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pemanasan ini mengubah sirkulasi atmosfer global, berdampak pada perubahan pola curah hujan di berbagai belahan dunia. Pada tahun 2015–2016, suhu di perairan tersebut melonjak drastis hingga lebih dari 2,5°C di atas rata-rata. Skala anomali yang luar biasa besar dan durasinya yang panjang membuat Bill Patzert, seorang klimatolog NASA, menyebutnya sebagai "Godzilla". Jika El Niño biasa hanya memicu pergeseran musim sesaat, versi Godzilla ini memicu cuaca ekstrem yang menghancurkan—banjir bandang di benua Amerika dan kekeringan mematikan di Asia Tenggara. Mengapa Indonesia Menjadi "Korban" Utama? Posisi geografis Indonesia membuatnya sangat rentan terhadap fluktuasi suhu di Samudra Pasifik. Ketika El Niño kuat terjadi, awan pembawa hujan yang biasanya berada di atas wilayah Nusantara "tertarik" bergeser ke arah timur menuju Samudra Pasifik. Akibatnya, wilayah Indonesia kehilangan pasokan curah hujan utamanya. Musim kemarau yang seharusnya berlangsung normal berubah menjadi periode kering kerontang yang berkepanjangan. Fenomena El Niño 2015 memicu kemarau sangat ekstrem di Indonesia yang berujung pada salah satu krisis lingkungan terburuk dalam sejarah modern, ditandai dengan hangusnya 2,61 juta hektare hutan dan lahan gambut yang memicu darurat kabut asap beracun. Krisis udara ini melumpuhkan aktivitas di berbagai wilayah dan menyebabkan lebih dari setengah juta warga menderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) serta menelan puluhan korban jiwa. Di saat yang bersamaan, menyusutnya debit air secara drastis menghancurkan sektor pertanian melalui gagal panen (puso) massal dan ancaman ketahanan pangan, yang secara keseluruhan memberikan pukulan telak bagi negara dengan total kerugian ekonomi mencapai Rp 221 triliun (berdasarkan laporan Bank Dunia), menjadikannya bencana dengan dampak kerusakan yang melampaui biaya rekonstruksi Tsunami Aceh. Apakah tahun 2026 ini akan terjadi El Nino Godzilla? Berdasarkan prakiraan BMKG dan beberapa institusi dunia memprediksi adanya peluang akan terjadi El Nino pada semester II tahun 2026 dengan intensitas lemah hingga moderat. Saat ini (awal April) kondisi ENSO masih berada pada kondisi netral, namun tren kenaikan indeks ENSO sudah mengalami kenaikan sejak awal Februari lalu. Diprediksi tren ini akan semakin menguat hingga 6 bulan kedepan. Biro Meteorologi (Bureau of Meteorology/BoM) Australia bahkan memprediksi hingga bulan Agustus indeks ENSO akan mencapai diatas +2 ℃ yang merupakan El Nino sangat kuat. Lalu apakah ini dapat dikatakan El Nino Godzilla? belum tentu. Namun kita harus tetap waspada, karena untuk wilayah Lampung musim kemarau tahun 2026 di prediksi dibawah normal (lebih kering) dan datang lebih awal. Jadi kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi musim kemarau ini.
Baca Selengkapnya