Lainnya Infografis
Siklus Mematikan: Ketika Plastik yang Kita Buang Kembali ke Meja Makan

Seringkali kita berpikir, saat kita membuang botol plastik ke tempat sampah (atau lebih buruk, ke selokan), masalah selesai. Kenyataannya, itu baru awal dari perjalanan panjang yang berbahaya bagi lingkungan dan diri kita sendiri.

Mari kita telusuri perjalanan sampah plastik ini:

1. Berawal dari Daratan Tahukah Anda bahwa sekitar 80% sampah di lautan sebenarnya berasal dari aktivitas kita di darat? Sampah yang dibuang sembarangan di jalan, atau yang tidak terkelola dengan baik di TPA, akan terbawa air hujan masuk ke sungai, dan akhirnya bermuara di laut lepas.

2. Jebakan bagi Satwa Laut Di laut, plastik adalah pembunuh. Penyu sering salah mengira kantong kresek sebagai ubur-ubur makanan favoritnya. Ikan, burung laut, dan mamalia laut lainnya sering mati karena terjerat sampah atau sistem pencernaan mereka tersumbat oleh plastik yang tidak bisa dicerna.

3. Ancaman Tak Kasat Mata: Mikroplastik Ini bagian yang paling mengerikan. Plastik sangat kuat dan tahan lama; ia tidak akan benar-benar terurai secara alami selama ratusan tahun. Sinar matahari dan gelombang laut hanya memecahnya menjadi potongan-potongan super kecil yang disebut mikroplastik.

Laut kita kini berubah menjadi "sup plastik". Plankton memakan mikroplastik ini, ikan kecil memakan plankton, ikan besar memakan ikan kecil, dan seterusnya.

4. Boomerang ke Piring Kita Melalui proses bioakumulasi dalam rantai makanan, plastik yang mengandung bahan kimia berbahaya itu akhirnya kembali kepada kita. Saat kita menyantap seafood favorit, ada kemungkinan kita juga sedang menelan partikel plastik yang pernah kita buang bertahun-tahun lalu.

Saatnya Bertindak! Kita tidak bisa terus-menerus mengotori lautan. Putus siklus ini sekarang. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Bawa tas belanja dan botol minum sendiri adalah langkah kecil yang dampaknya sangat besar jika dilakukan bersama-sama.

Jaga laut kita, untuk menjaga kesehatan kita.

Kesehatan Infografis
Waspada! Iklim Berubah, Nyamuk Mewabah Sub-judul: Bagaimana Cuaca Ekstrem Memicu Lonjakan Kasus DBD

Judul: Ketika Iklim Memanas, Ancaman DBD Semakin Ganas

Pernahkah Anda menyadari mengapa kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) seolah tidak mengenal musim dan semakin meningkat setiap tahunnya? Jawabannya bukan hanya pada kebersihan lingkungan, tetapi juga pada iklim yang berubah.

Berikut adalah tiga faktor utama bagaimana iklim mempengaruhi penyebaran DBD:

1. Temperatur yang Semakin Panas Pemanasan global membuat suhu bumi meningkat. Bagi nyamuk Aedes aegypti, suhu hangat adalah surga. Dalam kondisi panas, metabolisme nyamuk meningkat sehingga mereka lebih sering menggigit. Selain itu, panas mempercepat masa inkubasi virus di dalam tubuh nyamuk, sehingga kemampuan mereka menularkan penyakit menjadi jauh lebih cepat.

2. Curah Hujan yang Ekstrem Perubahan iklim membuat pola hujan menjadi sulit diprediksi. Hujan lebat seringkali meninggalkan genangan air di sampah plastik, ban bekas, atau talang air. Ini adalah tempat VIP bagi nyamuk untuk bertelur. Sebaliknya, saat kemarau panjang (El Nino), warga cenderung menampung air di dalam rumah, yang jika tidak tertutup rapat, justru menjadi sarang jentik.

3. Kelembapan Udara Nyamuk membutuhkan kelembapan untuk bertahan hidup. Iklim tropis dengan kelembapan tinggi membuat umur nyamuk menjadi lebih panjang. Semakin lama nyamuk hidup, semakin banyak kesempatan ia untuk menularkan virus ke manusia.

Kesimpulan Perubahan iklim adalah "bensin" bagi penyebaran DBD. Kita tidak bisa serta merta mengontrol cuaca, namun kita bisa memutus rantai hidup nyamuk. Lakukan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang) secara rutin. Jangan biarkan perubahan iklim menang melawan kesehatan kita.